MUKOMUKO-MANGIMBAU.COM – Program vaksin HPV anak laki-laki mulai menjadi perhatian setelah pemerintah memperluas sasaran imunisasi Human Papillomavirus atau HPV kepada siswa laki-laki usia sekolah dasar pada 2026. Langkah ini sekaligus mengubah anggapan bahwa imunisasi HPV hanya berkaitan dengan perempuan dan pencegahan kanker serviks.
Dalam video channel YouTube Liputan6 bertajuk “Vaksinasi HPV untuk Anak Laki-Laki”, pemberian vaksin HPV kepada anak laki-laki mulai digencarkan di Jakarta. Edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting karena masih terdapat masyarakat yang belum memahami mengapa anak laki-laki juga membutuhkan perlindungan terhadap infeksi HPV.
Program vaksin HPV anak laki-laki tersebut bukan sekadar tren vaksinasi baru. Human Papillomavirus dapat menginfeksi perempuan maupun laki-laki dan berkaitan dengan sejumlah penyakit. Karena itu, memperluas perlindungan sebelum anak memasuki usia dengan risiko paparan yang lebih tinggi menjadi bagian dari strategi pencegahan jangka panjang.
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menjelaskan bahwa DKI mendapat mandat bersama dua provinsi lain untuk memperluas imunisasi HPV kepada anak laki-laki kelas 5 SD atau sederajat yang umumnya berusia sekitar 11 tahun. Pelaksanaannya diintegrasikan dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS pada Agustus 2026.
Wajib Tahu, Vaksin HPV Anak Laki-laki Mulai Diperluas pada 2026
Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia lebih familier dengan vaksin HPV sebagai upaya mencegah kanker leher rahim pada perempuan. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi HPV bukan virus yang hanya dapat menginfeksi perempuan.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menegaskan infeksi HPV juga dapat terjadi pada laki-laki dan menimbulkan berbagai penyakit. Oleh sebab itu, vaksin HPV anak laki-laki diberikan sebagai upaya membangun perlindungan sejak usia dini.
Program ini ditujukan terutama sebelum anak memasuki periode dengan kemungkinan paparan HPV yang lebih tinggi. DKI Jakarta menyasar siswa laki-laki kelas 5 SD atau sederajat dengan usia sekitar 11 tahun.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan strategi pencegahan HPV secara lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menempatkan vaksinasi HPV sebagai salah satu pilar utama strategi eliminasi kanker serviks sekaligus mengakui spektrum penyakit lain yang dapat dicegah melalui vaksinasi HPV.
Kelas 5 SD Jadi Sasaran Vaksin HPV Anak Laki-laki
Sasaran awal vaksin HPV anak laki-laki dalam program yang dilaksanakan di DKI Jakarta adalah siswa kelas 5 SD atau sederajat dengan usia sekitar 11 tahun.
Pemilihan kelompok usia tersebut bukan tanpa alasan. Vaksin bekerja dengan membentuk perlindungan terhadap HPV sebelum seseorang terpapar virus tersebut. Karena itu, imunisasi pada usia sekolah dipandang sebagai periode strategis untuk memberikan perlindungan sejak dini.
Kementerian Kesehatan melalui Ayo Sehat menyebut Indonesia merekomendasikan imunisasi HPV satu dosis apabila diberikan sebelum usia 20 tahun. Dalam program imunisasi nasional, sasaran usia sekolah diarahkan pada kelas 5 SD/MI atau anak sekitar usia 11 tahun yang tidak mengikuti sekolah formal.
Pelaksanaan melalui sekolah juga memungkinkan petugas kesehatan menjangkau sasaran dalam jumlah besar secara lebih terstruktur. Sekolah berkoordinasi dengan puskesmas dan tenaga kesehatan sehingga imunisasi dapat dilakukan sebagai bagian dari program BIAS.
DKI Jakarta, Bali dan Yogyakarta Jadi Tiga Wilayah Perluasan

Program vaksin HPV anak laki-laki pada tahap perluasan 2026 belum boleh dipahami seolah-olah pelaksanaannya sudah identik di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta, provinsi tersebut mendapatkan mandat bersama dua provinsi lainnya untuk melaksanakan perluasan sasaran kepada siswa laki-laki kelas 5.
Keterangan lebih rinci dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyebut tiga provinsi yang direncanakan menjalankan program tersebut adalah Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta.
Pemilihan ketiga provinsi tersebut dikaitkan dengan capaian program imunisasi HPV yang sebelumnya telah berada pada tingkat tinggi. Perluasan kepada laki-laki kemudian menjadi langkah berikut dalam upaya memperkuat pencegahan infeksi HPV.
Karena penerapan program dapat berkembang, orang tua di luar tiga provinsi tersebut sebaiknya mengecek informasi terbaru melalui dinas kesehatan, sekolah atau puskesmas di wilayah masing-masing.
Jakarta Barat Targetkan 18.531 Siswa Laki-laki
Besarnya skala program dapat terlihat dari pelaksanaan di Jakarta Barat. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat mulai menjalankan vaksinasi HPV bagi siswa laki-laki di SDN Meruya Utara 02 pada 3 Agustus 2026.
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menargetkan sebanyak 18.531 siswa laki-laki kelas 5 menerima vaksin HPV pada 2026. Target tersebut mencakup sekolah-sekolah di wilayah Jakarta Barat.
Dalam pencanangan di SDN Meruya Utara 02, program imunisasi sekolah juga mencakup antigen lain sesuai kelas dan jadwal BIAS. Untuk HPV, siswa kelas 5 perempuan maupun laki-laki menjadi kelompok penerima pada periode Agustus.
Angka 18.531 tersebut merupakan target khusus Jakarta Barat dan tidak boleh dibaca sebagai jumlah target nasional vaksin HPV anak laki-laki. Jumlah sasaran di wilayah lain dapat berbeda sesuai populasi siswa dan kebijakan pelaksanaan setempat.
Mengapa Anak Laki-laki Juga Perlu Perlindungan dari HPV?
HPV terdiri atas banyak tipe virus. Sebagian infeksi dapat menghilang dengan sendirinya, tetapi infeksi persisten oleh tipe HPV tertentu dapat berhubungan dengan perkembangan penyakit serius.
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menjelaskan bahwa infeksi HPV dapat menyebabkan beberapa jenis kanker pada perempuan maupun laki-laki, termasuk kanker yang berkaitan dengan area anus dan orofaring.
Karena itu, manfaat vaksin HPV anak laki-laki tidak semata-mata dipandang sebagai cara membantu melindungi perempuan dari penularan. Anak laki-laki sendiri juga merupakan penerima manfaat langsung dari perlindungan terhadap tipe HPV yang dapat menimbulkan penyakit di kemudian hari.
CDC juga menjelaskan bahwa vaksin HPV bekerja paling baik ketika diberikan sebelum seseorang mengalami kontak dengan virus. Hal ini menjadi salah satu alasan program vaksinasi menargetkan kelompok usia muda.
Vaksin HPV Bukan Hanya Soal Kanker Serviks
Label “vaksin kanker serviks” yang selama ini melekat pada vaksin HPV membuat sebagian orang tua mungkin bertanya mengapa anak laki-laki membutuhkannya.
Secara lebih tepat, vaksin HPV adalah vaksin yang ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap tipe Human Papillomavirus tertentu. Beberapa tipe HPV tersebut berkaitan dengan kanker serviks, tetapi infeksi HPV juga mempunyai dampak kesehatan pada laki-laki.
WHO dalam position paper mengenai vaksin HPV membahas spektrum kanker dan penyakit lain yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Sementara Dinas Kesehatan DKI Jakarta secara khusus menekankan bahwa HPV dapat menginfeksi laki-laki sehingga edukasi mengenai vaksin HPV anak laki-laki perlu diperkuat.
Dengan pemahaman tersebut, orang tua tidak perlu memandang vaksin ini sebagai program yang “dipindahkan” dari perempuan kepada laki-laki. Perluasan sasaran justru berarti perlindungan terhadap infeksi HPV diberikan kepada kelompok yang lebih luas.
Vaksin HPV Diberikan Melalui BIAS pada Agustus
Pelaksanaan vaksin HPV anak laki-laki di sekolah terintegrasi dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa imunisasi HPV program diberikan secara gratis kepada peserta didik melalui BIAS yang diselenggarakan pada bulan Agustus. Bagi anak yang tidak bersekolah formal tetapi memenuhi sasaran usia program, pelayanan dapat diperoleh melalui puskesmas atau pos imunisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Di Jakarta Barat, pelaksanaan Agustus 2026 memberikan vaksin HPV kepada siswa kelas 5. Program imunisasi sekolah kemudian memiliki jadwal lain pada periode berikutnya untuk antigen berbeda.
Orang tua sebaiknya mengikuti pemberitahuan sekolah karena mekanisme teknis, tanggal imunisasi dan pemeriksaan awal dapat berbeda antarsekolah maupun wilayah.
Berapa Dosis Vaksin HPV untuk Anak Usia Sekolah?
Menurut informasi Kementerian Kesehatan yang tersedia melalui Ayo Sehat, kebijakan Indonesia merekomendasikan satu dosis imunisasi HPV apabila diberikan sebelum usia 20 tahun.
Pelaksanaan di Jakarta Barat pada 2026 juga menyebut vaksin HPV untuk sasaran program diberikan satu kali.
Namun, jumlah dosis untuk seseorang tidak seharusnya ditentukan sendiri hanya berdasarkan informasi internet. Kondisi kesehatan, usia, riwayat imunisasi dan keadaan khusus seperti gangguan sistem imun dapat memengaruhi rekomendasi medis.
WHO, misalnya, memiliki rekomendasi khusus bahwa orang dengan gangguan sistem imun atau HIV memerlukan setidaknya dua dosis dan, apabila memungkinkan, tiga dosis. Karena itu, untuk kondisi khusus, konsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan tetap diperlukan.
Apakah Vaksin HPV Aman untuk Anak?
Pertanyaan mengenai keamanan lazim muncul ketika suatu imunisasi diperluas kepada kelompok sasaran baru.
Kementerian Kesehatan menyatakan efek yang dapat muncul setelah imunisasi HPV umumnya bersifat ringan, seperti demam ringan, nyeri atau memar pada lokasi suntikan, sakit kepala maupun nyeri otot. Orang tua tetap dianjurkan mencari pertolongan medis apabila terjadi keluhan berat atau kondisi yang mengkhawatirkan setelah imunisasi.
CDC juga menyatakan vaksinasi HPV memberikan perlindungan yang aman, efektif dan bertahan lama terhadap infeksi HPV yang paling sering menyebabkan kanker.
Karena vaksin HPV anak laki-laki merupakan tindakan medis, petugas kesehatan tetap perlu melakukan penilaian terhadap kondisi anak sebelum vaksin diberikan, termasuk menanyakan riwayat alergi atau kondisi kesehatan tertentu.
Orang Tua Perlu Mendapat Edukasi yang Jelas
Salah satu tantangan perluasan program adalah komunikasi. Orang tua yang selama bertahun-tahun mengenal HPV sebagai isu kesehatan perempuan tentu dapat memiliki pertanyaan ketika anak laki-laki mereka masuk sasaran vaksinasi.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta bahkan mengadakan kegiatan khusus untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan sebelum program dilaksanakan. Tenaga kesehatan diposisikan sebagai sumber informasi bagi masyarakat agar penjelasan yang diberikan konsisten dan berbasis bukti.
Dalam konteks vaksin HPV anak laki-laki, orang tua berhak mengetahui sasaran, manfaat, prosedur, efek setelah imunisasi dan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.
Apabila terdapat informasi yang meragukan di media sosial, langkah yang lebih aman adalah memeriksanya melalui Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan, puskesmas, dokter atau sumber kesehatan kredibel sebelum mengambil keputusan.
Target Jangka Panjang Indonesia Menuju Eliminasi Kanker Serviks
Perluasan vaksinasi kepada laki-laki juga merupakan bagian dari strategi kesehatan jangka panjang.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menyampaikan target agar 90 persen anak perempuan dan laki-laki di Indonesia mendapatkan perlindungan imunisasi HPV pada 2030.
Strategi tersebut berjalan bersama berbagai langkah lain, termasuk vaksinasi perempuan, skrining kanker serviks dan peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, vaksin HPV anak laki-laki bukan program yang berdiri sendiri. Kebijakan ini menjadi salah satu komponen dari upaya lebih luas mengurangi sirkulasi HPV serta penyakit yang berkaitan dengan infeksi tersebut.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Orang tua yang memiliki anak laki-laki kelas 5 SD dapat mulai dengan memeriksa pemberitahuan dari sekolah atau puskesmas mengenai jadwal BIAS.
Pastikan petugas mengetahui riwayat kesehatan anak, termasuk alergi, kondisi medis tertentu atau terapi yang sedang dijalani. Apabila anak sedang sakit ketika jadwal imunisasi tiba, tanyakan kepada petugas kesehatan apakah vaksinasi perlu ditunda atau dapat tetap dilakukan.
Bagi anak yang tidak mengikuti pendidikan formal, informasi Kementerian Kesehatan menyebut pelayanan imunisasi program dapat diakses melalui puskesmas atau pos imunisasi bagi sasaran yang memenuhi ketentuan.
Yang juga penting, jangan hanya mengandalkan potongan video atau unggahan media sosial mengenai vaksin HPV anak laki-laki. Informasi program dapat berbeda berdasarkan wilayah dan dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah.
Program Masih Perlu Dipantau Pelaksanaannya
Perluasan imunisasi HPV kepada anak laki-laki merupakan perkembangan penting dalam program pencegahan penyakit di Indonesia. Namun keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan vaksin.
Kepercayaan orang tua, kemampuan tenaga kesehatan menjelaskan manfaat dan risiko, ketersediaan logistik, jangkauan terhadap anak di luar sekolah, serta pencatatan cakupan imunisasi menjadi bagian yang sama pentingnya.
Target 18.531 siswa laki-laki di Jakarta Barat menunjukkan skala pekerjaan yang harus dilakukan bahkan hanya dalam satu wilayah kota. Jika program diperluas lebih jauh, kebutuhan edukasi dan kesiapan pelayanan juga akan semakin besar.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengikuti perkembangan dari sumber resmi untuk mengetahui kapan vaksin HPV anak laki-laki tersedia di daerah masing-masing dan kelompok usia mana yang menjadi sasaran.
Sumber Resmi dan Referensi
- YouTube Liputan6 – Vaksinasi HPV untuk Anak Laki-Laki
- Dinas Kesehatan DKI Jakarta – Vaksinasi HPV bagi Anak Laki-Laki
- Pemkot Jakarta Barat – Target Vaksinasi HPV 18.531 Siswa Laki-Laki
- Dinas Kesehatan Provinsi Bali – Imunisasi HPV pada Anak Laki-Laki
- Kementerian Kesehatan RI – Vaksin HPV
- Kementerian Kesehatan RI – Target Perlindungan HPV 2030
- WHO – Human Papillomavirus Vaccines Position Paper
- CDC – Cancers Caused by HPV
Kesimpulan
Program vaksin HPV anak laki-laki mulai diperluas pada 2026 dengan siswa kelas 5 SD atau sederajat sekitar usia 11 tahun menjadi kelompok sasaran dalam pelaksanaan BIAS di wilayah perintis.
DKI Jakarta menjadi salah satu provinsi yang menjalankan program bersama Bali dan DI Yogyakarta. Di Jakarta Barat saja, pemerintah daerah menargetkan 18.531 siswa laki-laki kelas 5 menerima imunisasi HPV pada 2026.
Perluasan tersebut penting karena HPV tidak hanya menginfeksi perempuan. Laki-laki juga dapat mengalami penyakit akibat infeksi HPV, sehingga pemberian vaksin sebelum kemungkinan paparan virus menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang.
Kementerian Kesehatan menyediakan imunisasi HPV program secara gratis melalui BIAS, sedangkan anak usia sasaran yang berada di luar sekolah dapat mengecek pelayanan melalui puskesmas atau pos imunisasi.
Orang tua tetap perlu mengikuti informasi resmi dari sekolah dan tenaga kesehatan, terutama mengenai jadwal, kondisi kesehatan anak sebelum imunisasi serta prosedur yang berlaku di masing-masing wilayah.
Baca Juga :



Tinggalkan Balasan