Mukomuko-mangimbau.com – Dari 8 Presiden Republik Indonesia, mulai dari Bung Karno presiden pertama hingga Prabowo presiden sekarang ini, tidak banyak diantara mereka yang pernah menginjakkan kaki ke “Kapuang Sati Ratau Batuah”, Kabupaten Mukomuko.

Yang paling diingat oleh sebagian masyarakat Mukomuko sekarang ini mungkin hanya Suharto, Presiden kedua yang pernah berkunjung ke Mukomuko. Kalau itu, Presiden Suharto meresmikan Bendung Majunto, tahun 1998 silam.

Setelah itu, tidak ada catatan sejarah presiden setelah Suharto pernah mengunjungi daerah paling utara di Provinsi Bengkulu ini.

Tapi siapa sangka, jauh sebelum Suharto ke Mukomuko, Presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Proklamator, Bung Karno pernah menjejakkan kaki ke Mukomuko.

Kisahnya ini kami ulas dikutip dari buku biografi Presiden RI pertama, Sukarno yang ditulis wartawan wanita Amerika Serikat, Cindy Adam, berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.

Seperti sudah banyak diketahui, bahwa Sukarno pernah menjalani hukuman pengasingan di Bengkulu. 4 tahun lamanya. Mulai Februari 1938 sampai Februari 1942.

Jepang mulai menancaokan kekuasaannya di tanah jajahan Belanda berbarengan dengan diasingkannya Sukarno ke Bengkulu. Sejumlah daerah di Sumatera sudah diduduki Jepang. Diantaranya wilayah Sumatera Selatan.

Jepang terus bergerak menekan pemerintahan Belanda di Bengkulu. Puncaknya tahun 1942, tentara Jepang sudah sampai ke pintu-pintu gerbang “Bumi Rafflesia”.

Pemerintahan Belanda di Bengkulu ketir. Bukan saja takut wilayah jajahannya direbut pasukan dari negara penyembah matahari itu.

Lebih dari itu, Belanda sangat khawatir, sang “Singa Podium” jatuh ke tangan Jepang. Jika itu terjadi, Bung Karno bisa menjadi “peluru” bagi Jepang untuk menendang Belanda dari tanah Asia Tenggara.

Melalui pendekatan kemiripan ras, memudahkan Jepang mengajak pribumi sama-sama memerangi Belanda. Salah satu kampanye Jepang yang menyebut mereka “Kakak tua” bagi bangsa Indonesia kala itu.

Dan kampanye itu akan semakin ampuh jika keluar dari suara lantang Bung Karno. Sebab itulah, seperti apapun caranya, Belanda tidak ingin “Putra Sang Fajar” jatuh ke kubu Jepang.

Belanda sebetulnya diselimuti ketakutan yang luar biasa. Akan tetapi, mereka tetap mengatur siasat melarikan Bung Karno agar tidak jatuh ke tangan Jepang.

Mendapat informasi Jepang bakal segera masuk Bengkulu, Belanda mengatur siasat melarikan Sukarno beserta keluarga.

Pada bulan Februari 1942, di suatu malam, empat orang Polisi Belanda mulai melakukan perjalanan pelarian menggunakan sebuah mobil jenis bak terbuka / pickup.

Untuk mengecoh pasukan Jepang, mulanya rombongan Bung Karno berjalan ke arah selatan Bengkulu. Setelah memastikan tidak ada lagi yang melihat, baru mereka memutar dan justru menuju ke arah Utara dengan tujuan Padang.

Dalam perjalanan pelarian inilah, Bung Karno bersama keluarga pernah bermalam di Mukomuko. Juga pernah menumpang gerobak sapi milik warga setempat.

Dikisahkan dalam buku yang ditulis Cindy Adam; Sukarno, Inggit (istri Bung Karno), Sukarti (keponakan), dan Riwu (pembantu dari Flores) berangkat dari Bengkulu pada pukul 11 malam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam perjalanan, rombongan Bung Karno tiba di Mukomuko sekitar pukul 5 sore esok harinya atau 12 Februari.

“Untuk menghilangkan jejak, polisi pada awalnya mengambil jalan ke arah selatan. Setelah jelas tidak ada orang yang mengikuti kami, mereka memutar haluan ke Utara menuju Muko-Muko, sekitar 240 kilometer dari Bengkulu, dimana kami akan bermalam. Ada tiga belas sungai lebar berlumpur dan banyak buaya, yang harus diseberangi. Dan tidak ada jembatan diatas sungai itu. Kami menyeberanginya dengan rakit dan perahu buatan penduduk. Pukul lima petang hari berikutnya, rombongan yang kelelahan itu sampai di Muko-Muko,” tertulis dalam buku Bab 17; Pelarian, halaman 181.

Rombongan Sukarno bersama keluarga akhirnya bermalam di Mukomuko. Kisah ini diceritakan langsung oleh Bung Karno kepada Cindy Adam dan kemudian dituangkan ke dalam buku.

Itu artinya, tanah dang langit Mukomuko pernah menjadi pelindung bagi “Putra Sang Fajar”. Memang tak lama, hanya beberapa jam saja. Dari pukul 5 sore, sampai pukul 3 dini hari esoknya. Hanya 10 jam saja.

Sukarno bercerita dengan Cindy Adam, rombongan Bung Karno bermalam di rumah panggung di Mukomuko.

Kemudian melanjutkan perjalanan pada pukul 3 dinihari. Tujuan dari Mukomuko menuju Padang melewati Tapan. Kendaraan yang digunakan tidak lagi mobil bak terbuka. Perjalanan dari Mukomuko kendaraan diganti gerobak sapi hingga sampai Tapan.

Tak jarang Bapak Proklamator itu harus berjalan kaki karena jalan yang belum memadai. Hingga bertemu kendaraan Belanda di wilayah Tapan dan langsung menuju Padang.

Gerobak Sapi Penyelamat Putra Sang Fajar Milik Pemuka Adat Mukomuko

Pada pukul 3 dini hari, rombongan Sukarno sudah harus bergerak lagi menuju Padang. Kendaraan yang semula mobil pickup, berganti gerobak sapi atau pedati.

Menurut cerita turun temurun masyarakat Mukomuko, gerobak sapi yang ditumpangi Sukarno dari Mukomuko menuju Tapan adalah milik seorang pemuka adat “Ugang Tuo Kaum” bernama Samad.

Samad pula yang menjadi pengendali alias sopir gerobak sapi yang ditumpangi “Putra Sang Fajar” itu. Hal ini dikemukakan seorang pensiunan PNS Mukomuko, Amiruddin yang cukup mencintai sejarah Mukomuko.

Menurut Amiruddin, di rumah Samad pula rombongan Bung Karno bermalam dan beristirahat dari pelarian itu.

Pak Samad kala itu merupakan orang cukup terpandang, bukan saja ekonominya yang lumayan baik dibuktikan ia memiliki gerobak sapi, tapi Samad juga pemuka adat, Ughang Tuo Kaum Enam Dihili.

Rumah Samad yang dimaksud dalam cerita beralamat di Pasar Gedang, atau sekarang Kelurahan Pasar Mukomuko. Saat ini, kisaran Mesjid Jamik hingga Kantor Camat Kota Mukomuko.

“Cerita ini kami dapat secara turun menurun. Almarhum Samad bawa gerobak ngantar Pak Karno sampai Tapan. Keturunan Pak Samad itu, namanya Darwis, biasanya dipanggil Wih Bengke,” demikian Amiruddin berkisah.

Kebenaran mengenai kisah Samad ini tentu perlu pendalaman. Namun yang pasti, dari buku biografi Presiden RI pertama, Ir. Soekarno berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis wartawan wanita Amerika Serikat Cindy Adam, bahwa Sukarno memang pernah ke Mukomuko.

Peristiwa itu terjadi pada Februari tahun 1942, sebelum kemerdekaan Indonesia. Dalam buku juga dibenarkan, kalau dari Mukomuko menuju wilayah Pesisir Selatan, Sumbar, rombongan Bung Karno melanjutkan perjalanan menggunakan pedati atau gerobak sapi.

Berdasarkan uraian kisah di atas. Presiden Republik Indonesia yang pernah datang ke Mukomuko bukan cuma Suharto di masa orde baru.

Akan tetapi, Presiden pertama RI; Sukarno, Bapak Proklamator, Putra Sang Fajar juga pernah ke Mukomuko, tapi sebelum kemerdekaan Indonesia, sebelum dirinya menjadi Presiden. (*)