MMA – Sosok wanita yang menjadi pendamping Bung Karno saat diasingkan di Bengkulu (1938 sampai 1942) bukan Ibu Fatmawati. Melainkan sosok perempuan lain.

Kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno memang menarik untuk disimak.

Bukan saja cerita perlawanannya terhadap penjajah baik itu Belanda maupun Jepang. Atau pidatonya yang berapi-api, menggelegar.

Seluruh sendi-sendi kehidupan Bapak Proklamator ini menarik untuk diketahui. Termasuk urusan percintaan.

Tidak dipungkiri, Bung Karno memiliki banyak istri. Namun yang paling melekat sebagai Ibu Negara adalah seorang putri Bengkulu bernama Fatmawati.

Perjalan asmara Bung Karno dengan Hasan Din cukup berliku dan panjang. Bung Karno memang pernah tinggal di Bengkulu kurang lebih 4 tahun pada masa pengasingan.

Saat diasingkan di Bengkulu, Sukarno tinggal di rumah yang sekarang beralamat di Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.

Rumah tinggal Bung Karno itu sekarang masih terawat dan menjadi magnet bagi wisatawan.

Kembali ke sejarah. Meski Sukarno tinggal di Bengkulu, sosok wanita pendamping atau istri Sukarno saat tinggal di Bumi Bunga Rafflesia kala itu bukanlah Fatmawati.

Sosok wanita yang setia menjadi sandaran si “Singa Podium” di masa-masa memperjuangkan kemerdekaan adalah Inggit Garnasih, wanita kelahiran Desa Kemasan, Kabupaten Bandung.

Inggit merupakan istri kedua Sukarno. Sebelumnya Sukarno pernah menikah dengan Siti Utari, anak dari H.O.S. Cokroaminoto.

Pada artikel ini, Mukomuko Mangimbau tidak mengulas secara panjang lebar bagaimana perjalan cinta Sukarno dengan Inggit.

Singkat cerita, Sukarno dan Inggit menikah pada 24 Maret 1923. Pernikahan itu terjadi setelah Bung Karno menceraikan Siti Utari dan Inggit diceraikan oleh suaminya, Sanusi alias Kang Uci.

Usia Inggit terpaut 13 tahun lebih tua dari usia Sukarno. Kedewasaan itu menjadi pondasi kesabaran Inggit mendampingi Sukarno sebagai pimpinan rakyat melawan penjajah.

Peran Inggit Garnasih terhadap kehidupan Bapak Proklamator, Sukarno tidaklah sedikit. Diawal pernikahan, Inggir setia mendampingi hingga Sukarno menyandang gelar insinyur.

Sepak terjang politik Sukarno melawan penjajah juga menghadapi risiko. Bukan saja risiko bagi Sukarno, tapi juga bagi Inggit istrinya.

Sukarno dipenjara, Inggit senantiasa tetap mendukung perjuangan Sukarno, dan setia menanti pulang sang suami.

Sukarno diasingkan ke beberapa daerah seperti Flores termasuk Bengkulu, Inggit tetap setia mendampingi.

Tahun 1942, Jepang masuk menguasai Nusantara. Sukarno dilarikan oleh pemerintah Belanda.

Hingga Sukarno kembali ke Jakarta usai diasingkan di Bengkulu, Inggit Garnasih masih tetap menjadi istri Sukarno.

Pernikahan Sukarno dengan Inggit berlangsung hingga 20 tahun. Namun dari pernikahan ini, Sukarno belum memiliki keturunan.

Lalu bagaimana hubungan Sukarno dengan Fatmawati yang kemudian menjadi Ibu Negara pertama untuk Republik Indonesia?

Saat tinggal di Bengkulu di masa pengasingan, hubungan Sukarno dengan Fatmawati tidak lebih dari sekedar guru dan murid.

Akan tetapi, dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Sukarno mengakui benih cinta itu sudah tumbuh sejak pertemuan di masa pengasingan itu.

Dalam buku itu, Sukarno mengakui kalau Inggit merasa cemburu melihat kedekatan Sukarno dengan Fatmawati. Akibatnya, Sukarno bertengkar dengan Inggit.

Sukarno juga mengaku pernah merasa risau ketika mendengar Fatmawati akan segera dilamar seorang laki-laki.

Setelah Sukarno berada di Jakarta, ia pernah berkirim surat untuk Fatmawati. Sekedar untuk memberi tahu kalau dirinya dan keluarga sudah sampai dengan selamat di Jakarta.

Tekanan politik, hingga urusan pribadi, khusnya hubungannya dengan Inggit membuat Sukarno sering sakit.

Sukarno ingin sekali mendapat kebahagiaan dengan mendapat keturunan. Tapi itu sulit diwujudkan karena Inggit sudah berusia 53 tahun pada tahun 1943. Akhirnya Sukarno dan Inggit berpisah.

Sukarno akhirnya menikahi Fathimah pada bulan Juni 1943. Usia Bung Karno sudah 42 tahun, dan Fatmawati berusia 20 tahun.

Saat hari pernikahan, Sukarno berada di Jakarta dan Fatmawati di Bengkulu. Pernikahan dilangsungkan dengan Sukarno menunjuk pengantin pengganti untuk mewakili akad nikah.

Baruhlah beberapa pekan kemudian, Fatmawati menyusul suaminya ke Jakarta. Mendampingi Sukarno dalam misi perjuangan.

Menurut catatan sejarah, Bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat pembacaan teks proklamasi merupakan bendera jahitan Ibu Fatmawati.

Dan yang membuat Bung Karno bahagia, dari Fatmawati, Sukarno bisa memiliki banyak keturunan.

Pernikahan dengan Fatmawati, Sukarno mendapat 5 anak. Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Mudah-mudahan ulasan di atas bisa menambah referensi sejarah bangsa, khususnya tentang sosok Bapak Proklamator, Bung Karno.

Meski sekarang banyak foto Fatmawati dipajang di rumah tinggal Bung Karno di Bengkulu, tapi saat rumah itu ditinggali Sukarno pada tahun 1938 sampai 1942 pada masa pengasingan, Ibu Fat belum menjadi istri Sukarno.

Sosok istri Sukarno kala itu adalah putri Bandung, Ibu Kos Bung Karno saat berkuliah di Bandung. Dia adalah Inggit Garnasih. *