MMA – Di Kabupaten Mukomuko kuota gas subsidi 3 kg disebut-sebut melebihi kuota. Namun tetap saja terjadi kelangkaan di tengah masyarakat, terutama menjelang hari besar.

Secara kebutuhan, jika kuota gas subsisdi di Mukomuko melebihi kuota seharusnya masyarakat mudah mendapatkan gas.

Tentu saja timbul dugaan publik adanya permainan distribusi. Karena kondisi seperti ini sering terjadi di berbagai daerah, di mana gas subsidi berpotensi “bocor” ke pelaku usaha non-rumah tangga, dijual keluar daerah.

Atau bahkan dialihkan ke pengecer dengan harga lebih tinggi. Akibatnya, stok di tingkat masyarakat cepat habis meski kuota di atas kertas terlihat aman.

Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Air Manjuto. Hampir seminggu ini masyarakat kesulitan mendapatkan gas elpiji subsidi. Lebih parahnya setiap pangkalan disebut-sebut hanya mendapat jatah 20 tabung gas elpiji 3 Kg dari agen.

Tentu jumlah itu tidak sebanding dengan kebutuhan warga dalam satu desa atau kecamatan. Maka wajar jika muncul pertanyaan tentang transparansi distribusi.

“Hampir satu minggu ini kami kesulitan mendapat gas subsidi 3 Kg. Setiap kami datang ke pangkalan, stok gas selalu kosong. Katanya pangkalan hanya mendapat jatah stok 20 tabung gas, jika benar jumlah itu belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar salah satu warga Desa Kota Praja, Susi.

Hal senada juga disampaikan oleh Misbah, jika kuota berlebih, seharusnya masyarakat mudah mendapatkan gas. Tentu ini diduga adanya kecurangan dalam pendistribusian gas subsidi ke masyarakat.

“Kami minta Disperindagkop turun ke pangkalan. Jangan sekedar memberikan informasi bahwa stok gas di Mukomuko aman,” pungkasnya. (api)