Mukomuko-mangimbau.com – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mukomuko resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan Terpadu Dasar (DTD) Angkatan III Banser dan Garda Fatayat (Garfa) Tahun 2026, Jumat (24/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 24–26 Juli 2026, ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus mencetak kader yang disiplin, loyal, berintegritas, dan memiliki jiwa nasionalisme.

Pembukaan DTD digelar dengan khidmat dan dihadiri oleh Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Mukomuko Damsir, Camat Penarik Chairul Saleh, S.KM., M.M., Ketua PCNU Kabupaten Mukomuko Daud Ghauraf, S.Ag., Kapolsek Penarik, perwakilan Koramil Penarik, Wakil Ketua I PW GP Ansor Provinsi Bengkulu Ahmad Fajrin, Ketua PC GP Ansor Mukomuko Nur Kholis, S.Sos., Ketua PC Fatayat NU Mukomuko, serta para pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Mukomuko.

Cetak Kader Militan Berjiwa Nasionalis dan Siap Mengabdi, DTD Banser dan Garfa Angkatan III Resmi Dibuka di Mukomuko

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mukomuko, Nur Kholis, S.Sos. menjelaskan bahwa DTD Angkatan III tahun ini diikuti oleh 47 peserta, terdiri dari 28 peserta Banser dan 19 peserta Garda Fatayat (Garfa).

Selama mengikuti pelatihan, peserta akan mendapatkan berbagai materi yang menjadi bekal utama sebagai kader NU, di antaranya wawasan kebangsaan, ke-NU-an, kepemimpinan, navigasi darat, kedisiplinan, bela negara, hingga materi pendukung lainnya.

Menurut Nur Kholis, DTD bukan sekadar pelatihan fisik maupun organisasi, tetapi merupakan proses pembentukan karakter kader agar mampu menjadi pelayan umat yang siap mengabdi kepada agama, organisasi, bangsa, dan negara.

“DTD bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi proses pembentukan karakter kader Ansor dan Banser yang siap berkhidmah untuk Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya berpesan kepada seluruh peserta agar memegang tiga kunci utama selama mengikuti pengkaderan ini, yaitu disiplin, loyalitas, dan ikhlas. Jika tiga nilai ini tertanam kuat, insyaallah akan lahir kader-kader yang tangguh, bertanggung jawab, dan mampu menjadi pelayan umat di mana pun berada,” ujar Nur Kholis.

Sementara itu, Wakil Ketua I PW GP Ansor Provinsi Bengkulu, Ahmad Fajrin, mengatakan DTD memiliki posisi strategis dalam sistem kaderisasi GP Ansor. Menurutnya, setelah mengikuti DTD, peserta memiliki kesempatan menentukan fokus pengabdian, baik tetap aktif di GP Ansor maupun bergabung sebagai anggota Banser.

“DTD memiliki keistimewaan tersendiri karena setelah mengikuti proses kaderisasi ini, kader memiliki kesempatan menentukan fokus pengabdian, apakah lebih aktif di GP Ansor atau memperkuat barisan Banser. Berbeda dengan PKD yang fokus pada penguatan kader Ansor. Apa pun pilihan pengabdiannya, saya berharap seluruh peserta senantiasa berhidmat dengan penuh keikhlasan kepada Nahdlatul Ulama, menjaga marwah organisasi, serta terus menjadi kader yang membawa manfaat bagi masyarakat,” kata Ahmad Fajrin.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PCNU Kabupaten Mukomuko, Daud Ghauraf, S.Ag., menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama lahir dari rahim pesantren sehingga hubungan antara NU dan pesantren tidak dapat dipisahkan. Ia mengajak seluruh kader untuk menanamkan semangat pengabdian tanpa pamrih kepada organisasi.

“Nahdlatul Ulama lahir dari rahim pesantren. Karena itu, NU dan pesantren adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Berkhidmah di NU adalah bagian dari jihad, karena melalui organisasi inilah kita menjaga persatuan umat, merawat nilai-nilai kebangsaan, dan memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya mengajak seluruh kader untuk tidak berpikir apa yang akan diperoleh dari Ansor atau Fatayat, tetapi bertanyalah apa yang bisa kita berikan untuk organisasi. Dengan semangat pengabdian itulah organisasi akan terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat, tegasnya.

Daud juga mengingatkan pentingnya memperkuat sinergi seluruh badan otonom (Banom) NU agar tetap solid dalam menjalankan fungsi sosial, keagamaan, dan kebangsaan.

“Ansor, Banser, Fatayat, dan seluruh Banom NU harus terus