MUKOMUKO-MANGIMBAU.COM – Perkembangan terbaru mengenai cakupan imunisasi anak Indonesia membawa kabar menggembirakan sekaligus menjadi peringatan bagi orang tua dan pemerintah. Data WHO dan UNICEF menunjukkan semakin banyak anak telah memperoleh vaksin penting, tetapi ratusan ribu anak masih belum menerima satu dosis vaksin sekalipun.
Berdasarkan estimasi cakupan imunisasi nasional WHO dan UNICEF atau WUENIC 2025 yang diumumkan pada 21 Juli 2026, cakupan dosis ketiga vaksin yang mengandung difteri, tetanus, dan pertusis atau DTP3 meningkat dari 78 persen pada 2024 menjadi 82 persen pada 2025.
Cakupan dosis ketiga vaksin hepatitis B atau HepB3 juga meningkat dari 78 persen menjadi 82 persen. Peningkatan tersebut berarti lebih dari 3,6 juta anak di Indonesia telah menerima rangkaian dosis yang dibutuhkan untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit-penyakit serius tersebut.
Meski menunjukkan kemajuan, laporan terbaru tentang cakupan imunisasi anak Indonesia juga mencatat bahwa sekitar 657.000 anak masih tergolong zero-dose atau belum pernah menerima satu dosis vaksin. Angka tersebut memang turun dibandingkan 748.000 anak pada 2024, tetapi jumlahnya masih memerlukan perhatian besar.

7 Fakta Terbaru Cakupan Imunisasi Anak Indonesia
Angka yang diumumkan WHO dan UNICEF perlu dipahami secara utuh. Peningkatan cakupan merupakan kemajuan penting, tetapi belum berarti seluruh anak telah menerima setiap imunisasi yang direkomendasikan tepat waktu.
1. Cakupan DTP3 Meningkat Menjadi 82 Persen
DTP3 merupakan dosis ketiga vaksin yang melindungi anak dari difteri, tetanus, dan pertusis. Ketiga penyakit tersebut dapat menimbulkan kondisi serius, terutama pada bayi dan anak-anak yang belum memiliki perlindungan memadai.
Data terbaru menunjukkan cakupan DTP3 meningkat empat poin persentase, dari 78 persen pada 2024 menjadi 82 persen pada 2025. Kenaikan tersebut menjadi salah satu indikator kemajuan cakupan imunisasi anak Indonesia.
Namun, angka 82 persen belum berarti seluruh anak Indonesia sudah menerima imunisasi dasar lengkap. Angka tersebut secara khusus menggambarkan cakupan dosis ketiga vaksin yang mengandung DTP.
2. Cakupan HepB3 Juga Mencapai 82 Persen
Selain DTP3, dosis ketiga vaksin hepatitis B atau HepB3 mengalami peningkatan yang sama. Cakupannya naik dari 78 persen pada 2024 menjadi 82 persen pada 2025.
Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati. Infeksi yang terjadi pada usia dini dapat berkembang menjadi penyakit kronis dan meningkatkan risiko gangguan hati pada masa mendatang.
Pemberian imunisasi hepatitis B sesuai jadwal membantu membangun perlindungan anak. Orang tua perlu memeriksa buku kesehatan ibu dan anak atau catatan imunisasi untuk memastikan seluruh dosis telah diterima.
3. Lebih dari 3,6 Juta Anak Mendapat Rangkaian Vaksin
WHO dan UNICEF memperkirakan lebih dari 3,6 juta anak Indonesia menerima rangkaian lengkap dosis DTP3 dan HepB3 selama 2025. Angka tersebut memperlihatkan besarnya jangkauan pelayanan imunisasi di Indonesia.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari pelayanan puskesmas, posyandu, rumah sakit, klinik, sekolah, tenaga kesehatan, kader, pemerintah daerah, serta dukungan keluarga.
Kemajuan cakupan imunisasi anak Indonesia juga menunjukkan pentingnya pelayanan yang mudah dijangkau. Ketika jadwal, tenaga kesehatan, ketersediaan vaksin, dan informasi dapat diakses masyarakat, lebih banyak anak berpeluang memperoleh perlindungan.
4. Jumlah Anak Zero-Dose Turun Menjadi 657 Ribu
Istilah zero-dose digunakan untuk menggambarkan anak yang belum pernah menerima dosis awal vaksin rutin. Dalam rilis WHO dan UNICEF, jumlah anak dalam kelompok tersebut diperkirakan turun dari 748.000 pada 2024 menjadi 657.000 pada 2025.
Penurunan sekitar 91.000 anak merupakan perkembangan positif. Artinya, puluhan ribu anak yang sebelumnya belum terjangkau mulai memperoleh akses terhadap pelayanan vaksinasi.
Namun, 657.000 tetap merupakan jumlah yang besar. Anak zero-dose berisiko tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Peningkatan cakupan imunisasi anak Indonesia perlu diarahkan tidak hanya untuk menambah jumlah penerima vaksin, tetapi juga memastikan anak di wilayah terpencil, kepulauan, kawasan perbatasan, dan keluarga rentan tidak tertinggal.
5. Lebih Banyak Remaja Putri Mendapat Vaksin HPV
WHO dan UNICEF juga mencatat adanya kemajuan dalam pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan. Vaksin ini berperan dalam melindungi penerimanya dari infeksi Human Papillomavirus yang dapat menyebabkan kanker serviks di kemudian hari.
Pemberian vaksin HPV merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Perlindungan diberikan sebelum seseorang terpapar virus sehingga program biasanya menyasar anak perempuan atau remaja sesuai kebijakan imunisasi nasional.
Orang tua disarankan mengikuti informasi dari sekolah, puskesmas, dan dinas kesehatan mengenai jadwal pemberian imunisasi. Jangan menggunakan jadwal dari unggahan media sosial yang tidak mencantumkan sumber resmi.
6. Cakupan Beberapa Vaksin Masih Belum Merata
Di tengah peningkatan DTP3, HepB3, dan HPV, WHO dan UNICEF menyatakan bahwa cakupan beberapa vaksin lainnya masih tidak berubah atau mengalami penurunan.
Kondisi ini berarti sebagian anak mungkin belum memiliki perlindungan lengkap terhadap penyakit seperti tuberkulosis, pneumonia, campak, rubela, dan penyakit lain yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Ketimpangan antardaerah menjadi salah satu tantangan cakupan imunisasi anak Indonesia. Wilayah dengan akses transportasi terbatas, kekurangan tenaga kesehatan, kendala rantai dingin, atau rendahnya kepercayaan masyarakat dapat memiliki cakupan lebih rendah.
Cakupan vaksin yang tinggi dan merata penting karena penyakit menular dapat menyebar dengan cepat ketika banyak anak tidak memiliki kekebalan. Satu daerah dengan cakupan rendah dapat menjadi lokasi munculnya penularan atau kejadian luar biasa.
7. Imunisasi Memberikan Manfaat Kesehatan dan Ekonomi
WHO menyebut imunisasi sebagai salah satu investasi kesehatan masyarakat yang paling efektif. Setiap satu dolar Amerika Serikat yang diinvestasikan pada imunisasi dapat menghasilkan manfaat kesehatan, sosial, dan ekonomi hingga 54 dolar.
Manfaat tersebut berasal dari penyakit yang berhasil dicegah, biaya pengobatan yang berkurang, menurunnya risiko wabah, serta masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
Imunisasi juga membantu mengurangi beban keluarga. Ketika anak terlindungi dari penyakit serius, risiko rawat inap, pengeluaran medis, kehilangan waktu bekerja bagi orang tua, kecacatan, dan kematian dapat ditekan.
Apa Arti Angka 82 Persen?
Angka 82 persen yang ramai diberitakan tidak boleh ditafsirkan bahwa 82 persen anak sudah menerima seluruh jenis imunisasi. Angka tersebut merujuk secara khusus pada cakupan dosis ketiga DTP dan dosis ketiga hepatitis B pada 2025.
Setiap vaksin memiliki sasaran, jumlah dosis, dan jadwal yang berbeda. Seorang anak dapat tercatat telah menerima DTP3, tetapi masih memiliki imunisasi lain yang belum lengkap.
Karena itu, evaluasi cakupan imunisasi anak Indonesia tidak cukup dilakukan dengan melihat satu jenis vaksin. Pemerintah dan keluarga perlu memastikan setiap anak mendapatkan seluruh imunisasi yang direkomendasikan sesuai usia.
Mengapa Imunisasi Lengkap Penting?
Imunisasi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali penyebab penyakit sebelum anak benar-benar terpapar. Dengan demikian, tubuh dapat memberikan respons yang lebih cepat ketika menghadapi infeksi.
Vaksin tidak selalu menjamin seseorang sama sekali tidak terinfeksi. Namun, imunisasi dapat mengurangi risiko mengalami penyakit berat, komplikasi, kecacatan, rawat inap, dan kematian.
Cakupan yang tinggi juga memberikan perlindungan kepada kelompok yang belum dapat menerima vaksin tertentu karena usia atau kondisi medis. Perlindungan tersebut dapat melemah apabila jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi meningkat.
Itulah sebabnya peningkatan cakupan imunisasi anak Indonesia perlu dijaga secara berkelanjutan dan tidak hanya dilakukan melalui kampanye sesaat.
Cara Memeriksa Imunisasi Anak Sudah Lengkap atau Belum
Langkah pertama adalah memeriksa Buku Kesehatan Ibu dan Anak, kartu imunisasi, atau catatan pelayanan dari puskesmas, posyandu, klinik, dan rumah sakit.
Cocokkan tanggal pemberian, jenis vaksin, dosis, dan usia anak. Apabila tulisan tidak jelas atau kartu imunisasi hilang, hubungi fasilitas kesehatan yang pernah memberikan pelayanan.
Orang tua juga dapat membawa anak dan seluruh dokumen yang masih tersedia ke puskesmas. Tenaga kesehatan akan membantu menilai imunisasi yang sudah diberikan dan dosis yang masih diperlukan.
Jangan menambah, mengurangi, atau mengulang dosis berdasarkan perkiraan sendiri. Penentuan imunisasi berikutnya harus mempertimbangkan usia, riwayat vaksinasi, kondisi kesehatan, serta ketentuan program yang berlaku.
Apa yang Harus Dilakukan jika Jadwal Imunisasi Terlewat?
Jadwal yang terlewat tidak selalu berarti anak harus mengulang seluruh vaksinasi dari awal. Dalam banyak kondisi, tenaga kesehatan dapat menyusun imunisasi kejar berdasarkan dosis yang sudah diterima.
Orang tua sebaiknya segera menghubungi puskesmas, posyandu, dokter, atau fasilitas kesehatan. Semakin cepat jadwal diperiksa, semakin cepat pula perlindungan anak dapat dilengkapi.
Jangan menunda karena merasa usia anak sudah terlalu besar. Imunisasi lanjutan juga tetap dibutuhkan pada usia baduta, anak sekolah, remaja, dan kelompok usia lainnya sesuai program.
Program imunisasi kejar menjadi bagian penting untuk memperbaiki cakupan imunisasi anak Indonesia, khususnya bagi anak yang melewatkan pelayanan karena sakit, berpindah tempat tinggal, pandemi, keterbatasan akses, atau alasan lainnya.
Efek Setelah Imunisasi yang Perlu Dipahami
Setelah imunisasi, sebagian anak dapat mengalami nyeri pada tempat suntikan, demam ringan, rewel, atau merasa kurang nyaman. Keluhan ringan biasanya bersifat sementara.
Orang tua harus mengikuti petunjuk observasi dan perawatan yang diberikan tenaga kesehatan. Jangan memberikan obat tanpa memperhatikan dosis dan arahan yang tepat.
Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kesulitan bernapas, kejang, tidak sadarkan diri, pembengkakan berat, kondisi sangat lemas, demam tinggi yang menetap, atau gejala lain yang membuat orang tua khawatir.
Informasi mengenai kejadian ikutan pascaimunisasi sebaiknya diperoleh dari tenaga kesehatan, bukan dari pesan berantai atau konten media sosial tanpa sumber medis.
Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Cakupan Imunisasi
Orang tua memegang peran besar dalam memastikan anak menerima imunisasi tepat waktu. Simpan catatan imunisasi, pasang pengingat jadwal, dan tanyakan dosis berikutnya setiap kali datang ke fasilitas kesehatan.
Periksa pula informasi kegiatan posyandu, Bulan Imunisasi Anak Sekolah, dan program imunisasi lain di wilayah tempat tinggal.
Apabila memiliki keraguan mengenai keamanan, manfaat, efek samping, atau kondisi medis anak, sampaikan pertanyaan langsung kepada dokter, bidan, perawat, atau petugas imunisasi.
Dukungan keluarga, sekolah, kader, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah akan menentukan apakah cakupan imunisasi anak Indonesia dapat terus meningkat secara merata.
Sumber Resmi dan Referensi
- WHO dan UNICEF: Perkembangan Cakupan Imunisasi Anak Indonesia
- World Health Organization: Immunization Coverage 2025
- Kementerian Kesehatan: Penguatan Imunisasi dan Anak Zero-Dose
- Ayo Sehat Kemenkes: Poster Jadwal Imunisasi Dasar
- Ayo Sehat Kemenkes: Informasi Seputar Imunisasi
- ANTARA: Indonesia Memperluas Cakupan Imunisasi Anak
Kesimpulan
Data terbaru menunjukkan cakupan imunisasi anak Indonesia mengalami kemajuan. Cakupan dosis ketiga DTP dan hepatitis B meningkat dari 78 persen pada 2024 menjadi 82 persen pada 2025. Lebih dari 3,6 juta anak telah menerima rangkaian dosis tersebut.
Jumlah anak zero-dose juga turun dari 748.000 menjadi 657.000. Namun, ratusan ribu anak yang masih belum terjangkau serta cakupan beberapa vaksin yang stagnan atau menurun menunjukkan bahwa pekerjaan belum selesai.
Orang tua dapat mendukung peningkatan cakupan imunisasi anak Indonesia dengan memeriksa catatan vaksinasi, mengikuti jadwal pelayanan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan melengkapi dosis yang tertunda melalui imunisasi kejar.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Baca Juga:


Tinggalkan Balasan